People & Culture
Keunikan Suku Karen Si Leher Panjang di Thailand
2017-08-09 05:35:17
HIS Travel

Setiap suku pasti memiliki keunikan. Tak terkecuali Suku Karen yang bisa ditemukan di Thailand. Suku Karen adalah salah satu suku yang tinggal di bagian utara Thailand. Saat berkunjung ke Thailand, sempatkan untuk berkunjung ke desa tempat tinggal Suku Karen untuk melihat kehidupan mereka yang unik.

Berasal Dari Tibet

Suku Karen yang tinggal di Thailand sesungguhnya bukanlah suku asli Thailand. Suku ini pada awalnya tinggal di dataran tinggi Tibet, lantas berpindah ke Myanmar tepatnya ke daerah yang berbatasan dengan Thailand. Daerah ini kemudian dikenal dengan sebutan Karen State.

Suku Karen ini sebenarnya terdiri dari beberapa sub etnis antara lain, etnis Pwo Karen, Skaw Karen dan Bwe Karen. Beberapa sub etnis ini berpindah ke Thailand setelah berkonflik dengan pemerintah setempat. Saat ini sebagian besar Suku Karen masih tinggal di Myanmar sedangkan kurang lebih 150.000 orang memilih untuk menetap di Thailand.

image source: kompas.com

 

Suku Karen yang tinggal di Thailand terbilang hidup sejahtera. Mereka tidak lagi tinggal di pedalaman dan di gunung-gunung seperti kehidupan aslinya. Di Thailand, Suku Karen tinggal di desa wisata dan sangat diperhatikan kehidupannya oleh pemerintah. Salah satu desa wisata tempat tinggal Suku Karen di Thailand yakni Baan Tong Luang di Chiang Mai.

Sementara itu, sampai sekarang Suku Karen yang masih berada di Myanmar sesungguhnya sedang mengalami situasi yang sulit. Rezim militer yang berkuasa di Myanmar telah melakukan penindasan terhadap kelompok minoritas yang berada di wilayah mereka, salah satunya terhadap Suku Karen.

Serangan mematikan yang dilakukan tentara perintah Myanmar telah membuat lebih dari 2000 Suku Karen meninggalkan desa asal mereka. Tentara-tentara pemerintah ini menangkap orang-orang dari Suku Karen, menembak mati sebagian dari mereka, membumi hanguskan rumah-rumahnya dan memaksa mereka yang ditangkap menjadi pekerja. Kondisi seperti inilah yang membuat ribuan Suku Karen mengungsi ke negara-negara terdekat.

image source: kompas.com

 

Sesungguhnya Suku Karen tak tinggal diam dengan keadaan yang mereka hadapi. Suku Karen membentuk kelompok yang disebut KNU (Karen National Union). Kelompok ini sudah berjuang lebih dari 60 tahun. Namun semakin lama kekuatan mereka semakin melemah yang diakibatkan kuatnya tekanan pemerintah dan juga menyusul perpecahan di dalam kelompok mereka sendiri. Jika Suku Karen yang berdiam di Thailand sudah merasakan kenyamanan hidup, Suku Karen yang berada di Myanmar masih terus berjuang.

Keunikan Suku Karen

Keunikan Suku Karen yang sekaligus menjadi daya tariknya adalah keharusan para kaum wanitanya untuk memanjangkan leher dengan menggunakan tumpukan kawat dari bahan kuningan. Keharusan untuk memanjangkan leher ini merupakan tradisi yang dilakukan sejak gadis. Tak hanya pada bagian leher saja, tumpukan gelang-gelang dari kuningan juga ditambahkan di bagian kaki dan pergelangan tangan agar kaki serta tangan menjadi lebih panjang seperti burung Phoenix.

Gelang-gelang logam yang ada di bagian leher wanita Suku Karen ini beratnya bisa mencapai 5 Kg. Sedangkan gelang-gelang logam yang ada di kaki dan lutut berat masing-masing sekitar 1 Kg. Di masa-masa awal, gelang-gelang logam yang dipakai hanya berjumlah 2 sampai 3 tumpuk saja. Kemudian jumlah gelang ditambahkan setiap 2 atau 3 tahun sekali sampai seorang wanita mencapai usia 19 tahun. Setelah itu, gelang-gelang tersebut diganti dengan sebatang besi lonjor panjang yang dililitkan pada leher. Tentunya lilitan besi ini tidak mudah dilepaskan. Biasanya besi yang dipasangkan ini baru dilepas saat seorang wanita menikah, melahirkan dan meninggal dunia.

Wanita dengan leher yang semakin panjang, dianggap terlihat semakin cantik di mata kaum pria. Karena kewajiban inilah, maka Suku Karen mendapat julukan Si Leher Panjang. Kebudayaan mereka secara turun temurun juga menjadi latar belakang pemakaian gelang-gelang ini. Suku Karen meyakini bahwa kaum wanita mereka berasal dari seekor burung Phoenix. Burung Phoenix dianggap sebagai nenek moyang kaum wanita yang berpasangan dengan naga yang merupakan nenek moyang para pria Suku Karen.

image source: novilzzz.blogspot.co.id

 

Tak hanya berfungsi untuk memanjangkan leher dan kaki, gelang-gelang tersebut juga berfungsi sebagai pelindung. Dahulu kala di saat Suku Karen masih tinggal di hutan, gelang-gelang ini menjadi pelindung kaum hawa dari serangan hewan buas seperti beruang dan harimau. Gelang-gelang ini akan melindungi mereka dari cakaran ataupun dari gigitan.

Selain mengamati uniknya leher kaum wanitanya yang berkalung tumpukan kawat, para wisatawan juga bisa melihat aneka tenun yang merupakan hasil kerajinan tangan kaum wanita Suku Karen. Seluruh kaum wanita dari Suku Karen memang memiliki keahlian menenun yang diwariskan secara turun menurun. Mereka menenun kain untuk dipakai sebagai selimut, pakaian, topi hingga kaos kaki. Hasil kerajinan tangan ini juga dijual kepada wisatawan yang berkunjung untuk menambah penghasilan mereka.

Seperti halnya suku-suku yang tinggal di pedalaman dan pegunungan, bertani adalah mata pencaharian utama suku ini. Mereka menggarap sawah dan membangun lumbung padi sebagai tempat menyimpan hasil panen. Beberapa kincir air juga dibuat untuk mendukung kehidupan mereka. Suku Karen juga mengenakan pakaian yang khas sehingga menjadi daya tarik tersendiri.

Suku Karen yang berdiam di Thailand ini sangat ramah terhadap tamu-tamu yang berkunjung ke desa mereka. Hampir semua pemilik rumah akan mempersilahkan tamu yang datang untuk masuk ke rumah mereka sekedar melihat-lihat atau mengambil foto tanpa meminta bayaran. Karena itulah, cukup lama waktu yang dibutuhkan jika ingin melihat kehidupan mereka dari dekat dan menyusuri setiap sudut desa satu per satu. Nah, apakah Anda tertarik untuk berkunjung kesana?

H.I.S Tours & Travel memiliki 279 cabang yang siap memberikan pelayanan terbaik untuk kamu. Serahkan perjalanan kamu ke Thailand pada H.I.S!

Top image source: vemale.com