People & Culture
Pengeboman Hiroshima: Monumen Sadako Sasaki dan 1.000 Burung Bangau
2017-08-05 21:36:38
HIS Travel

Sejarah kelam menghantui dunia 72 tahun yang lalu, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom pada dua tempat di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Pengeboman yang menggoreskan cerita kelam bagi bangsa Jepang itu hanya menyisakan reruntuhan yang hingga kini masih dibiarkan menjadi saksi bisu dalam Hiroshima Peace Memorial Park.

Pada tanggal 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom ke Kota Hiroshima yang sekaligus menjadi awal mula berakhirnya Perang Dunia II. Tragisnya, lebih dari 100.000 jiwa yang tidak berdosa meninggal dan mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Maka, untuk mengenang dan menghormati para korban, didirikanlah Hiroshima Peace Memorial Park yang akan menjadi kilas balik kisah-kisah sebelum dan sesudah pengeboman.

Image source: visithiroshima.net

Bangunan-bangunan bersejarah banyak terdapat di area taman perdamaian ini, mulai dari museum, monumen, taman, hingga reruntuhan bangunan di masa silam. Seluruh bangunannya menyimpan kenangan pilu dan menyakitkan. Salah satunya adalah Monumen Sadako atau lebih dikenal dengan Monumen Perdamaian Anak.

Image source: www.thousandwonders.net

Terlihat patung seorang anak yang berdiri di atas tugu melengkung berkaki tiga, tangannya dibentangkan bebas ke atas menyangga origami berbentuk burung bangau, patung anak perempuan bernama Sadako Sasaki ini ternyata dibuat hasil usulan teman-teman sekolahnya. Monumen ini menggambarkan seorang anak perempuan yang menjadi korban radiasi bom atom. Kisah Sadako menginspirasi seluruh dunia yang diwakilkan dengan origami berbentuk burung bangau berwarna-warni.

Image source: cjlifo.co.kr

Menurut tradisi di Jepang, jika seseorang melipat 1.000 origami berbentuk burung bangau, maka permohonan mereka akan dikabulkan. Itulah yang dilakukan Sadako Sasaki setelah terbaring di rumah sakit karena mengidap leukimia.

Saat hari pengeboman, Sadako berada di rumah yang berjarak 1,6 kilometer. Meski tidak secara langsung terkena letusan bom pada Minggu pagi tanggal 6 Agustus 1945 itu, banyak orang yang terkena imbas radiasi setelahnya. Berbagai penyakit menyerang, seperti kanker darah atau leukimia yang diderita Sadako.

Setelah perang berakhir, Sadako hidup normal seperti anak-anak pada umumnya, meski kehidupan sedikit sulit pasca pengeboman, Sadako menjadi anak yang ceria dan sering menjadi juara pada bidang olahraga di kelasnya.

Pada suatu hari, Sadako terjatuh dan kondisi tubuhnya semakin hari semakin lemah. Sadako dilarikan ke rumah sakit saat berumur 11 tahun karena dokter sudah mendiagnosis dirinya mengidap leukimia. Sadako percaya akan sembuh dengan membuat 1.000 origami berbentuk burung bangau selama di rumah sakit. Namun, Sadako hanya berjuang hingga umur 12 tahun sebelum akhirnya meninggal akibat leukimia.

Image source: www.thousandwonders.net

Selain Monumen Sadako, di sekitarnya terdapat area panel-panel dengan ribuan origami berbentuk burung bangau berwarna-warni yang menggantung. Origami tersebut digantungkan sebagai lambang perdamaian dunia. Kisah Sadako yang menyentuh banyak orang bahkan hingga berbagai belahan dunia. Wisatawan yang mengunjungi Monumen Sadako akan berdoa dengan khidmat mengharapkan perdamaian dunia.

Terlepas dari sejarah kelamnya, kini Kota Hiroshima sudah bangkit dari keterpurukan dan bersama-sama menegakkan perdamaian bagi seluruh negara di dunia. Jepang disebut-sebut menjadi negara yang merupakan saksi sejarah besar di dunia.

Header image source: visithiroshima.net