Food
Wagashi, Kue Khas Jepang dalam Upacara Minum Teh
2017-07-17 08:22:15
HIS Travel

Panganan khas yang satu ini merupakan perpaduan antara peninggalan budaya Jepang dan jiwa seni yang tinggi dari pembuatnya. Tujuan utama pembuatan Wagashi adalah sebagai makanan pendamping saat upacara minum teh; untuk menghilangkan getir rasa pahit yang mungkin dirasakan orang yang meminum teh yang dihidangkan oleh tuan rumah. Dan karenanya, dalam upacara minum teh, Wagashi hanya boleh dimakan setelah kamu menyeruput teh hijau. Rata-rata Wagashi hanya memiliki rasa manis saja, namun seiring dengan perkembangan jaman, banyak varian Wagashi yang memiliki 2 atau lebih rasa didalamnya.

 

Ragam Wagashi

imagesource : hiraganatimes.com

Secara umum Wagashi dibagi kedalam 2 jenis; yakni kue yang dapat dihidangkan sepanjang tahun, dan kue yang hanya dihidangkan pada musim-musim tertentu. Kue ikonik Jepang, Dorayaki dan Dango, termasuk dalam jenis kue Wagashi yang dapat dihidangkan sepanjang tahun. Sementara kue-kue seperti Sakuramochi yang sering disajikan di tanggal 3 bulan Maret adalah contoh kue Wagashi musiman.

Selain olahan kue wagashi musiman, masing-masing daerah di Jepang memiliki wagashi yang unik dan spesifik. Contohnya Yatsuhasi yang berasal dari Kyoto dan terkenal memiliki aroma kayu manis yang khas; contoh lainnya adalah Uiro yang terkenal sebagai wagashi produksi perfektur Aichi dengan tekstur kenyal dan bau manis tipis yang keluar dari kue. Apabila kamu termasuk salah satu yang penasaran akan kue Dango, anda dapat mencoba varian Mitarashi Dango yang digemari karena rasa gurih dari campuran saus gula dan kecap yang dituangkan diatas kue.

Selain dijajakan pada kedai-kedai kaki lima, kue ini sering disajikan pada restoran papan atas dengan tingkat estetika yang tinggi. Penggunaan kue inipun semakin beragam, dari yang awalnya hanya untuk panganan pendamping teh hijau, kini berkembang sebagai kue yang dapat digunakan sebagai hadiah dalam acara-acara tertentu, dan juga sebagai camilan di sore hari bagi warga Jepang; khususnya anak-anak yang menggemari segala yang manis-manis.

 

Bahan dan Proses Pembuatan

imagesource : wikipedia

Pada saat pertama kali Wagashi diperkenalkan, bahan yang digunakan hanyalah berupa buah yang dikeringkan dan memiliki rasa yang manis, jauh dari imej kue yang dikenal luas. Seiring dengan perkembangan teknik pengolahan pangan di Jepang, dan pengenalan kue-kue barat yang dibawa oleh para misionaris, bahan yang digunakan dalam Wagashi pun mulai beraneka ragam.

Kini, kacang merah yang telah diolah kedalam bentuk pasta (Anko) menjadi bahan utama dari kebanyakan Wagashi dan kue-kue khas Jepang lainnya. Kacang merah yang telah diberikan gula dapat digerus / dihaluskan menjadi Koshian (Anko bertekstur halus) atau Tsubuan (Anko bertekstur kasar) dan dipergunakan sebagai isian kue. Bahan-bahan lain yang sering ditemui berperan sebagai bahan utama pembuatan Wagashi adalah beras ketan yang telah ditumbuk hingga lembut (lazim digunakan dalam pembuatan mochi), tepung beras, Kanten (agar-agar khas Jepang), wijen dan/atau kacang kastanye yang telah dihaluskan kedalam bentuk pasta. Penggunaan bahan yang berbeda tersebut yang membuat citarasa wagashi menjadi sangat beragam, dan seringkali mencerminkan budaya/kebiasaan/produk unggulan lokal tempat kue tersebut dibuat.

imagesource : Wagashi by Annabelle Orozco, via Flickr

Pembuatan wagashi sendiri merupakan bagian dari tradisi Jepang yang masih mengedepankan metode manual atau hand-made. Namun, tidak jarang ditemukan pembuatan wagashi yang menggunakan alat-alat bantu untuk mencetak kue. Walaupun cukup bervariasi jenisnya, garis besar pembuatan kue ini dimulai dengan pengolahan isian kue dari kacang merah yang memakan waktu cukup lama. Sembari menunggu isian kue matang, proses dilanjutkan dengan membuat adonan kue. Adonan tersebut kemudian diisi dengan kacang merah (atau bahan lain yang diperuntukkan sebagai isian wagashi) dan dimasak hingga matang. Seni dalam pembuatan wagashi turut ambil bagian pada proses pembuatan adonan kue, dan akan nampak serta menjadi nyata ketika kue tersebut telah matang dan dihidangkan.